Menganalisis Teks Eksplanasi
TUKANG OJEK PAYUNG
Mendung terlihat sangat gelap. Saat anak-anak lain bergegas masuk
rumah, saya dan teman-teman justru bersiaga.
Mula-mula, kami berkumpul di depan pintu keluar stasiun kereta
api. Sebagian lagi berkerumun di pasar di sebelah stasiun. Begitu tetes pertama
turun dari langit, kami menengadah dan berdoa agar hujan deras dan lama.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara-suara kecil, “Ojek
payung, Pak. Ojek payung, Bu ....”
Siapa tahu Anda tidak mengenal pekerjaan ini, ojek payung menawarkan
jasa sewa payung saat hujan. Anda bisa menyewa payung untuk menuju tempat
parkir kendaraan, misalnya. Anda bisa minta dipayungi atau memegang payung sendiri.
Sementara itu, pemilik payung akan mengikuti Anda dari belakang, di bawah
guyuran hujan. Saya ada di antara anak-anak itu, berlari kecil demi imbalan yang
tak seberapa besar. Itu saya lakukan setiap hari saat musim hujan.
Setelah itu, sebelum magrib, saya sudah sampai di rumah dan bisa
menghangatkan badan. Sambil berselimut sarung dan terkantuk kantuk, saya
kerjakan tugas sekolah semampu saya. Hampir setiap pagi, saya bangun dengan
badan pegal-pegal dan pilek yang tak kunjung usai. Di kelas, kepala saya sering
pusing hingga berdenyut denyut, tetapi sepulang sekolah saya tetap menuju ke
stasiun dan mengharap hujan turun deras.
Dengan turunnya hujan, saya bisa kembali berseru, “Ojek payung,
Pak. Ojek payung, Bu ....”
Selama dua tahun, saya menyambut dan mengantar pelanggan.
Penghasilan yang tak seberapa dari pekerjaan itu saya tabung, tetapi lebih
sering terpakai untuk keperluan sekolah dan lainnya. Saya tidak tega minta uang
lebih kepada ayah saya yang bekerja dari pagi hingga malam demi keluarga kami
bisa makan.
Ketika saya menyebut makan, jangan membayangkan meja makan
dengan nasi putih mengepul, lauk ikan atau ayam, beberapa pilihan sayuran,
lengkap dengan sambal dan kerupuk. Belum pernah kami memiliki hidangan seperti
itu. Kalau sedang beruntung, tahu atau tempe bisa mampir di piring kami. Kalau
tidak, kami harus cukup dengan nasi dan sayur saja.
Oh, saya punya ayam tetapi di kandang, bukan di piring.
Awalnya saya kasihan melihat penjual anak ayam kampung yang
dagangannya belum laku karena hari hujan. Saya beli dua dan saya pelihara.
Pasokan makanan mereka berasal dari sisa-sisa warung makan di pasar. Memelihara
anak ayam itu menyenangkan juga, membuat saya harus menyisihkan waktu untuk
mengurusi mereka. Kalau tidak telaten, anak ayam bisa mati. Orang bilang ini
menjadi hobi saya.
Berikutnya, ketika ayam-ayam itu sudah cukup umur, ada orang
yang menawar untuk membelinya. Saya langsung tertarik. Hasil penjualan saya
belikan anak ayam lagi beberapa ekor. Begitu seterusnya.
Kini, saya punya lima kandang besar yang memasok ayam
kampung ke puluhan warung dan rumah makan. Kerja keras saya membuahkan hasil.
Saya berhasil keluar dari kesulitan, bahkan bisa membantu keluarga teman-teman
saya.
Saya menahan diri untuk tidak berbelanja di luar kebutuhan
pokok, sehingga modal saya tidak terganggu dan terus bertambah. Walau ada uang
di tangan, saya tetap hidup dengan standar yang sama seperti ketika saya masih
menjadi ojek payung.
Payung besar yang pernah menjadi sumber penghasilan masih
saya simpan. Jika Tuhan mengizinkan, saya tidak ingin kembali ke jalanan dan
kedinginan, tetapi payung itu tetap akan menjadi kenangan yang takkan pernah
terlupakan.
Saat hujan turun deras, samar-samar di telinga saya
terngiang seruan, “Ojek payung, Pak. Ojek payung, Bu ....”
Saya bersyukur pernah merasakan kerasnya kehidupan saat usia
saya sangat muda. Kondisi itu mengajari saya untuk pantang menyerah dan tetap
disiplin menjalankan usaha yang kini saya miliki.
TUGAS:
Pada teks di atas, dapat kalian temukan informasi yang
disampaikan secara berurutan dari awal hingga akhir.
Diskusikan pertanyaan berikut ini dalam kelompok 3—5 orang.
- Mengapa penulis merasa perlu menjelaskan pekerjaan ojek payung kepada pembaca?
- Bagaimana asal mula penulis memutuskan bekerja sebagai ojek payung?
- Menurut kalian, di mana penulis tinggal? Di desa atau di kota? Sebutkan alasan kalian.
- Teks di atas tidak menyebutkan usia penulis saat ini. Coba perkirakan berapa usianya sekarang dan apa alasan kalian.
- Dalam teks tidak disebutkan informasi tentang orang tua penulis. Seandainya kalian hendak menambahkannya, pada bagian manakah informasi tentang orang tua penulis diletakkan?
- Menurut kalian, apa tujuan penulis membagikan kisah masa lalunya kepada pembaca?
- Apakah bacaan ini berhasil memberikan pesan bahwa penulis adalah orang yang mandiri? Informasi apa yang mendukung pernyataan tersebut?
- Apakah menurut kalian judul teks ini sudah menarik minat pembaca? Jika sudah, sebutkan alasannya. Jika belum, berikan saran kalian.
- Sekarang penulis telah menjadi pengusaha sukses berkat hobinya. Jelaskan proses yang dia lalui.
- Setelah membaca teks “Tukang Ojek Payung”, simpulkan kriteria menjadi wirausaha yang sukses.

Komentar
Posting Komentar